Jumat, 26 Februari 2016

SISTEM KOLOID



KATA PENGANTAR


Asslamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah kami yang membahas Sistem Koloid. Untuk kedua kalinya sholawat serta salam kami haturkan kepada junjungan nabi Muhamad SAW semoga selalu terlimpahkan. Amien.

Tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Bapak/ Ibu guru yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan makalah ini. Dimana makalah ini saya  mengupas sekelumit tentang Sistem Koloid dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi siswa siswa atau bagi pembacanya. Tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan penyusunan makalah ini yang masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak maupun bagi pembaca makalah ini.

Wasalam

                                                                                               Dalu-dalu,  23 februari 2015

                                                                                       Penulis









DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .....................................................................................................................i

DAFTAR ISI ..................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................................................1
A. Latar Belakang ...............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..........................................................................................................1
C. Tujuan .............................................................................................................................1
D. Manfaat……………………………………………………………................................2
           
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................3
                  A.    Pengertian Koloid..........................................................................................................3
                  B.     Jenis-Jenis Koloid.........................................................................................................3
                  C.     Sifat-Sifat Koloid .........................................................................................................4 
                  D. Pembuatan Sistem Koloid..............................................................................................6
                  E.     Kegunaan Koloid  ........................................................................................................7

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................10










  

BAB I
PENDAHULUAN

         A.     Latar Belakang
Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dpat dijumpai sehari-hari. Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena kepentingannya.

B.    Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan system koloid?
b. Jelaskan macam-macam system koloid?
c. Bagaimana sifat-sifat koloid?
d  Bagaimana proses pembuatan sistem koloid?
e. Apa saja komponen system koloid, bentuk partikel dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari?

C.    Tujuan
a. Agar pembaca dapat mengetahui system koloid.
b. Agar pembaca mengetahui macam-macam system koloid.
c. Agar pembaca mengetahui sifat-sifat koloid.
d. Agar pembaca mengetahui proses pembuatan sistem koloid.
e. Agar pembaca mengetahui komponen sistem koloid, bentuk partikel dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

D.    Manfaat
a.  Pembaca dapat mengetahui system koloid.
b.  Pembaca mengetahui macam-macam system koloid.
c.  Pembaca mengetahui sifat-sifat koloid.
d.  Pembaca mengetahui proses pembuatan sistem koloid.
e. Pembaca mengetahui komponen sistem koloid, bentuk partikel dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Koloid
  Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll.  
Keadaan koloid atau sistem koloid atau suspensi koloid atau larutan koloid atau suatu koloid adalah suatu campuran berfasa dua yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi dengan ukuran partikel terdispersi berkisar antara 10-7 sampai dengan 10-4 cm. Besaran partikel yang terdispersi, tidak menjelaskan keadaan partikel tersebut. Partikel dapat terdiri atas atom, molekul kecil atau molekul yang sangat besar. Koloid emas terdiri atas partikel-partikel dengan bebagai ukuran, yang masing-masing mengandung jutaan atom emas atau lebih. Koloid belerang terdiri atas partikel-partikel yang mengandung sekitar seribu molekul S8. Suatu contoh molekul yang sangat besar (disebut juga molekul makro) ialah haemoglobin. Berat molekul dari molekul ini 66800 s.m.a dan mempunyai diameter sekitar 6 x 10-7.


B.    Jenis-Jenis Koloid
Sistem koloid tersusun dari fase terdispersi yang tersebar merata dalam medium pendispersi. Fase terdispersi dan medium pendispersi dapat berupa zat padat, cair, dan gas. Berdasarkan fase terdispersinya, sistem koloid dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
      1.      Sol (fase terdispersi padat)
a.   Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi pada
Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam
b.   Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair
Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat
      c.       Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi gas
Contoh: debu di udara, asap pembakaran

2.   Emulsi (fase terdispersi cair)
a.   Emulsi padat adalah emulsi dalam medium pendispersi padat
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi
b.   Emulsi cair adalah emulsi dalam medium pendispersi cair
Contoh: susu, mayones, krim tangan
c.   Emulsi gas adalah emulsi dalam medium pendispersi gas
Contoh: hairspray dan obat nyamuk

3.  Busa atau Buih (fase terdispersi gas dan medium)
a.       Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat.
Contoh: Batu apung, marshmallow, karet busa, Styrofoam
      b.      Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi cair
Contoh: putih telur yang dikocok, busa sabun
Untuk pengelompokan buih, jika fase terdispersi dan medium pendispersi sama- sama berupa gas, campurannya tergolong larutan

4. Aerosol (fase terdispersi gas)
a.  aerosol padat adalah jika fase terdispersinya zat padat.
    Contoh: asap dan debu.
b.  aerosol cair adalah jika fasenya terdispersinya zat cair.
    Contoh; kabut dan awan.
Contoh produk yang menggunakan bentuk aerosol antara lain minyak wangi, obat anti nyamuk semprot, dan cat semprot.





5. Gel (fase terdispersi zat cair dan zat padat)
    Beberapa gel misalnya oksida terhidrat bila dilakukan pengocokan akan mencair membentuk sol, tetapi bila didinginkan akan membentuk gel kembali. Peristiwa perubahan gel menjadi sol atau sebaliknya dinamakan tiksotropi.
Contoh: mentega, keju, agar-agar, lem kanji, selai, gel sabun, dan produk produk komestik misalnya minyak rambut.



C.        Sifat-Sifat Koloid
   a.      Efek Tyndall
Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall.
Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar. Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid, cahaya akan dihamburkan. hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.


b.   Gerak Brown
Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan). Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak.
Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak Brown. Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam zat padat (suspensi). Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu system koloid, maka semakin besar energi kinetic yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu system koloid, maka gerak Brown semakin lambat.

c.   Absorpsi
Absorpsi  ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya permukaan partikel. (Catatan : Absorpsi harus dibedakan dengan absorpsi yang artinya penyerapan yang terjadi di dalam suatu partikel). Contoh : (i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+. (ii) Koloid As2S3 bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S2.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari :
a.       penyembuhan sakit perut yang disebabkan oleh bakteri
dianjurkan minum oralit atau norit, dapat menyembuhkan sakit perut karena dalam usus dapat membentuk sistem koloid yang mampu mengadsorpsi bakteri, sehingga bakteri itu mati.
b.      pemutihan gula tebu
caranya adalah larutan gula yang berwarna cokelat dilewatkan dalam sistem koloid, yaitu mineral yang berpori. Setelah itu dilewatkan melalui arang tulang yang dapat menyerap warna gula, sehingga larutan gula menjadi jernih tidak berwarna.




d.   Muatan koloid
Dikenal dua macam koloid, yaitu koloid bermuatan positif dan koloid bermuatan negatif.

e.   Koagulasi koloid
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit, pencampuran koloid yang berbeda muatan. Menggumpalkan koloid dapat dilakukan secara:
a.       mekanis
cara mekanis adalah menggumpalkan koloid dengan pemanasan, pengadukan, dan pendinginan. Proses ini akan mengurangi jumlah air atau ion disekeliling koloid sehingga koloid akan mengendap.
Contoh: koloid agar-agar dalam air akan menggumpal bila dipanaskan.
b.      Fisis
Cara fisis adalah penggunaan alat cottrel. Asap atau debu dari cerobong pabrik dapat digumpalkan dengan alat listrik atau cottrel. Hal itu bertujuan untuk mengurangi pencemaran asap dan debu yang berbahaya atau untuk memperoleh debu yang berharga ( misalnya debu logam ).
c.       Kimia
Pengumpalan dengan cara kimia dilakukan dengan menanbahkan elektrolit bermuatan lawan kedalam koloid.
Contoh:
1.      Getah karet akan menggumpal bila diberi asam semut ( formiat) atau diberi cuka.
2.      Pembentukan delta di muara sungai. Sistem koloid dalam air sungai bercampur dengan elektrolit NaCl dan garam-garam lain dari air laut, sehingga membentuk endapan.




f.    Koloid pelindung
Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi. Koloid pelindung pada emulsi dinamakan emulgator. Koloid yang dapat memberikan efek kestabilan disebut koloid pelindung.
Contoh:
1.      tinta tidak mengendap karena dicampur dengan kolid pelindung.
2.      Pada pembuatan es krim dicampurkan gelatin sebagai kolid pelindung, yang berguna mencegah pengkristalan es.

g.   Elektroforesis
Elektroferesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang bermuatan dengan menggunakan arus listrik.


D. Koloid liofil dan koloid liofob
    1. koloid liofil
Koloid liofil lebih kental dari pada medium pendispersinya dan tidak akan mengalami penggumpalan bila ditambahkan sedikit elektrolit. Liofil artinya suka cairan ( yunani: lio = cairan, philia = suka ). Pembentukan koloid liofil bersifat reversible.
Contoh: agar-agar, susu, dan santan.
    2.koloid liofob
jika medium pendispersi dari koloid liofob diuapkan atau digumpalkan dengan larutan elektrolit, sampai zat terdispersi terpisah dari medium pendispersi maka tidak akan dapat membentuk sol liofob lagi walaupun ditambah air sebagai medium pendispersi. Liofob artinya tidak suka (takut) pada cairan  (yunani: lio = cairan, phobia = takut).
Contoh: sol belerang, dan sol emas.





E.   Dialisis
Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan cara ini disebut proses dialisis. Pemurnian koloid disebut dialisis. Dilakukan dengan cara memasukkan koloid yang akan dimurnikan kedalam kantung yang dibuat dari selaput semipermeabel.
Prinsip dialisis saat ini digunakan sebagai proses cuci darah bagi gagal ginjal, yang dikenal dengan blood dialysis.


F.   Pembuatan Sistem Koloid
















1.      cara kondensasi
cara kondensasi adalah pembuatan sistem koloid dengan menggabungkan ion-ion, atom-atom, moleku-molekul, atau partikel yang lebih halus membentuk partikel yang lebih besar dan sesuai dengan ukuran partikel koloid. Cara kondensasi dapat dilakukan dengan beberapa cara:
a.       reaksi hidrolisis
hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
Contoh: FeCl3(aq) + 3 H2O (l)                 Fe (OH)3(s) + 3 HCl (aq)
                              larutan                         koloid
b.      reaksi redoks
reaksi redoks adalah reaksi yang disertai dengan perubahan bilangan oksidasi unsur-unsur yang terlibat dalam reaksi.
Contoh:
1.      pembuatan sol belerang (S) dengan mengalir hidrogen sulfida (H2S) ke dalam larutan belerang dioksida (SO2).
2 H2S (g) + SO2 (aq)                  2 H2O (l) + 2 S (s)
                                                                      Koloid




c.       penggantian pelarut
contoh:
1.      belerang sukar larut dalam air, tetepi mudah larut dalam alkohol seperti etanol.
2.      Kalium asetat jenuh dalam air dicampur dengan alkohol maka akan terbentuk koloid berupa gel.
d.      Dekomposis rangkap
Contoh:
1.      Sol As2S3 (aq) + 3 H2S (aq)                    As2S3 (s) + 6 H2O (l)
                                                                 Koloid
 2.Cara dispersi
               Cara dispersi adalah cara pembuatan sistem koloid dengan menghaluskan butir-butir zat yang bersifat makroskopis (kasar) menjadi butir-butir zat yang bersifat mikroskopis (halus), sesuai dengan ukuran partikel koloid. Cara ini dilakukan sebagai berikut:
a.       Cara mekanik
Partikel-partikel yang besar atau kasar digerus sampai halus sekali, kemudian dicampur dengan medium pendispersi dan dikocok-kocok.
Contoh:
1.      Sol belerang dapat dibuat dengan cara menumbuk dan menggerus butir-butir belerang yang dicampur dengan kristal gula pasir. Serbuk belerang dan serbuk gula yang haus tersebut dicampur dengan air sebagai medium pendispersi.

b.      Cara peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah).
Contoh:
1.      Agar-agar dipeptisasi oleh air
2.      Nitroselula dipeptisasi oleh aseton
3.      Karet dipeptisasi oleh bensin
4.      Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S
5.      Endapan Al (OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3

c.       Cara busur bredig
Cara busur bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan dalam medium dispersi, kemudian diberi loncatan listrik diantara kedua ujungnya. Mula-mula atom-atom logam akan terlompat kedalam air, lalu ataom-atom tersebut mengalami kondensasi, sehingga membentuk partikel koloid. Jadi, cara busu ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara kondensasi.


G.    Kegunaan Koloid dalam industri dan kehidupan sehari-hari
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.
Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid:
 
Jenis industri
Contoh aplikasi
Industri makanan
Keju, mentega, susu, saus salad
Industri kosmetika dan perawatan tubuh
Krim, pasta gigi, sabun
Industri cat
Cat
Industri kebutuhan rumah tangga
Sabun, deterjen
Industri pertanian
Peptisida dan insektisida
Industri farmasi
Minyak ikan, pensilin untuk suntikan
   Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid :
1.   Pemutihan Gula
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloidakan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.


2.   Penggumpalan Darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.

3.   Penjernihan Air
Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif melalui reaksi:
Al3+   +   3H2O     à    Al(OH)3   +      3H+
Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi. Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara lengkap.

           Dalam industri kosmetik banyak dihasilkan produk-produk yang merupakan koloid. beberapa tipe koloid yang digunakan dalam kosmetik sebagai berikut:
a.       Sol padat, contohnya lipstik, mascara, dan pensil alis.
b.      Sol, contohnya cat kuku, susu pembersih muka dan kulit, serta cairan mascara.
c.       Emulsi, contohnya pembersih muka.
d.      Aerosol, contohnya parfum semprot, hair spray, dan penyegar mulut bentuk semprot.
e.       Buih, contohnya sabun cukur.
f.       Gel, contohnya minyak ram




BAB  III
PENUTUP


 A. Kesimpulan
Partikel koloid dapat menghamburkan cahaya sehingga berkas cahaya yang melalui sistem koloid. Dapat diamati dari samping sifat partikel koloid ini disebut efek Tyndall.
      Jika diamati dengan mikroskop ultra ternyata partikel koloid senantiasa bergerak dengan gerak patah-patah yang disebut gerak Brown. Gerak Brown terjadi karena tumbukan tak simetris antara molekul medium dengan partikel koloid.
      - Koloid dapat mengadsorpsi ion atau zat lainpada permukaannya, dan oleh karena luas permukaannya yang relatif besar, maka koloid mempunyai daya adsorpsi yang besar.
Adsorpsi ion-ion oleh partikel koloid membuat partikel koloid menjadi bermuatan listrik. Muatan koloid menyebabkan gaya tolak-menolak di antara partikel koloid, sehingga menjadi stabil (tidak mengalami sedimentasi).
Muatan partikel koloid dapat ditunjukkan dengan elektroforesis, yaitu pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.
Penggumpalan partikel koloid disebut koagulasi. Koagulasi dapat terjadi karena berbagai hal, misalnya pada penambahan elektrolit. Penambahan elekrolit  akan menetralkan muatan koloid, sehingga faktor yang menstabilkannya hilang.
Koloid yang medium dispersinya berupa cairan dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Koloid liofil mempunyai interaksi yang kuat dengan mediumnya; sebaliknya, pada koloid liofob interaksinya tersebut tidak ada
- Koloid dapat dibuat dengan cara dispersi atau kondensasi. Pada cara dispersi, bahan kasar dihaluskan kemudian didispersikan ke dalam medium dispersinya. Pada cara kondensasi, koloid dibuat dari larutan di mana atom atau molekul mengalami agregasi (pengelompokan), sehingga menjadi partikel koloid.
Asbut adalah suatu bentuk pencemaran yang merupakan sistem koloid.



B. saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari masih ada  kekurangan. Oleh karena itu penulis sangat mengharap kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat menambah dan meningkatkan pengetahuan kita tentang sistem koloid.









































DAFTAR PUSTAKA

Purba, Michael.2010.Kimia Untuk SMA Kelas XI . Jakarta: ERLANGGA
Parning, dkk. 2006. Kimia SMA Kelas XI Semester Kedua. Jakarta : Yudhistira. Suharsini,     Maria. 2005. Kimia dan Kecakapan Hidup. Jakarta : Ganesa Exact.
Kimia SMA kelas XI kurikulum 2013. Jakarta : bailmu. Tine maria kuswati, ernavita, ratih, elly marwati.
 

DOA EKSPRESI RINDU Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang